Kata-kita Vol. 8
Bahas fenomena Bubble Filter
Efek Bubble Filter : Bebas Tapi Terbatas
Kamu salah satu pengguna sosial media ?
Pasti tahu kan, dengan hal yang disebut dengan algoritma sosial media.
Saat ini, banyak sekali perbincangan yang membahas tentang algoritma media sosial dan tak jarak mengaitkanya terhadap pola pikir seseorang terutama terhadap tingkat kepercayaan terhadap sebuah peristiwa. Kalau kamu bagaimana?
Kebetulan, baru-baru ini aku baru saja berbincang dengan teman kampus perihal algoritma sosial media yang apakah mungkin dapat mempengaruhi pola pikir dan tingkat kepercayaanya akan suatu hal. Tanpa kita sadar ternyata algoritma media sosial itu membuat kita terperangkap atau terbelenggu akan informasi yang itu-itu saja. Tak dipungkiri memang bahwa algoritma tersebut berjalan sesuai dengan apa yang kita lakukan di jejaring media sosial kita. Seperti siapa saja teman kita di media sosial, konten apa saja yang kita sukai dan ikuti, dan interaksi kawan sesama pengguna media sosial. Hal demikian juga sering disebut sebagai efek bubble filter. Tak jarang dengan adanya fenomena ini membuat seseorang menjadi sulit percaya dengan sebuah peristiwa, sebab dia sendiri belum meihatnya (terlebih dalam media sosial).
Bubble filter itu sendiri merupakan sebuah istilah yang diciptakan oleh seorang aktivis internet Eli Pariser pada tahun 2011 yang mengemukakan keadaan seseorang akan terisolasi secara intelektual karena algoritma dari media sosial.
Menurut Pariser, Filter Bubble ini juga bisa memiliki implikasi negatif jika ingin dikaitkan dengan perpolitikan. Dia mengambil contoh ajang Pilpres Amerika Serikat pada 2016 yang banyak dikaitkan dengan pengaruh platform media sosial seperti Twitter dan Facebook.
Lebih mudahnya juga kita juga bisa dapat mengambil contoh PILPRES 2019 Indonesia.
Dalam hal ini, sebagai contoh apabila kita pendukung salah satu paslon secara otomatis kita juga akan mengikuti perkembangan paslon tersebut di sosial medianya. Pada saat yang bersamaan juga secara tak sadar kita juga sedang terkekang atau terbelenggu dengan informasi-informasi yang itu-itu saja, dan secara tak langsung membuat kita beranggapan bahwa pemberitaan lain itu kurang dapat dipercaya sebab kita belum melihatnya.
Tapi, bagaimanapun semua itu tetap kembali pada diri kita bagaimana cara berpikir kita terhadap sebuah hal. Tetap menjadi manusia yang berpikir positif dan selalu mengutamakan riset sebelum melakukan atau mempercayai sebuah hal atau peristiwa.
Terimakasih atas segala apresiasi dan feedback yang telah diberikan. Seperti biasa, jangan lupa bahagia sebagaimana mestinya dan selalu yakin bahwa dirimu adalah sesuatu yang istimewa.
Kata-kita pamit,
See you-
Sumber Artikel:
Adam, Aulia. 2017. Filter Bubble: Sisi Gelap Algoritma Media Sosial.
https://tirto.id/filter-bubble-sisi-gelap-algoritma-media-sosial-cwSU Diakses pada tanggal 16 juni 2019 pukul 20.00 WIB.
Bubble filter itu sendiri merupakan sebuah istilah yang diciptakan oleh seorang aktivis internet Eli Pariser pada tahun 2011 yang mengemukakan keadaan seseorang akan terisolasi secara intelektual karena algoritma dari media sosial.
Menurut Pariser, Filter Bubble ini juga bisa memiliki implikasi negatif jika ingin dikaitkan dengan perpolitikan. Dia mengambil contoh ajang Pilpres Amerika Serikat pada 2016 yang banyak dikaitkan dengan pengaruh platform media sosial seperti Twitter dan Facebook.
Lebih mudahnya juga kita juga bisa dapat mengambil contoh PILPRES 2019 Indonesia.
Dalam hal ini, sebagai contoh apabila kita pendukung salah satu paslon secara otomatis kita juga akan mengikuti perkembangan paslon tersebut di sosial medianya. Pada saat yang bersamaan juga secara tak sadar kita juga sedang terkekang atau terbelenggu dengan informasi-informasi yang itu-itu saja, dan secara tak langsung membuat kita beranggapan bahwa pemberitaan lain itu kurang dapat dipercaya sebab kita belum melihatnya.
Tapi, bagaimanapun semua itu tetap kembali pada diri kita bagaimana cara berpikir kita terhadap sebuah hal. Tetap menjadi manusia yang berpikir positif dan selalu mengutamakan riset sebelum melakukan atau mempercayai sebuah hal atau peristiwa.
Terimakasih atas segala apresiasi dan feedback yang telah diberikan. Seperti biasa, jangan lupa bahagia sebagaimana mestinya dan selalu yakin bahwa dirimu adalah sesuatu yang istimewa.
Kata-kita pamit,
See you-
Sumber Artikel:
Adam, Aulia. 2017. Filter Bubble: Sisi Gelap Algoritma Media Sosial.
https://tirto.id/filter-bubble-sisi-gelap-algoritma-media-sosial-cwSU Diakses pada tanggal 16 juni 2019 pukul 20.00 WIB.

Komentar
Posting Komentar