Kata-kita Vol.7
Bahas Soal
Jurnalis Tradisional vs Jurnalis Robot


Pict from google


Keadaan media sudah berubah, sejak sepuluh tahun terakhir media telah mulai menggunakan AI (Artificial Intelligence) untuk menulis berita. Apakah semua itu adalah pertanda akhir dari peran manusia sebagai pencari berita?

Pada era digital saat ini,  Artificial Intelligence (AI) cepat atau lambat akan menggantikan peran jurnalis manusia. Hal ini tentunya sangat menjadi ancaman sekaligus ketakutan bagi para jurnalis tentunya.

Beberapa perusahaan yang menggunakan robot atau AI dalam dunia kerja jurnalistiknya, salah satu kantor berita yang telah menggunakan jurnalis robot di Indonesia yaitu Beritagar.id.

Setelah munculnya fenomena jurnalisme robot, mungkin akan banyak tanggapan yang keluar dari masyrakat terutama dari kalangan jurnalisMereka yang benar-benar paham benar teori, praktik, dan kode etik jurnalistik mungkin merasa tersinggung.. Bagi mereka yang paham akan teori, praktik, serta kode etik jurnalis, tentunya akan tersinggung dengan adanya fenomena ini.

Apa mungkin, sebuah algoritma AI dapat menggantikan tugas seorang jurnalis manusia dan apa mungkin robot dapat mendatangi lokasi dan memiliki ikatan emosi seperti halnya manusia.

Lalu, apakah peran manusia dalam dunia jurnalistik akan tergantikan? 

Jawabannya, tentu tidak.

Proses pengemasan hasil jurnalistik robot belum 100% sempurna, karena masih memerlukan sentuhan dari tangan manusia dalam mengedit tulisan. Robot jurnalistik pun belum bisa mengolah informasi yang lebih kompleks; laporan-laporan jurnalistik mendalam seperti investigasi belum mampu dilakukannya. Namun, siapa sangka suatu hari hal tersebut akan terwujud. Kehadiran jurnalis robot takutnya nanti akan menghadirkan efek domoni dan menjadi ancaman bagi para jurnalis manusia tentunya.


Kemudian, apakah jurnalisme robot juga bisa melakukan kesalahan? 

Jawabanya: Tentu bisa

Seperti apa yang kita bahas tadi, jurnalisme robot belum 100% sempurna karena masih memerlukan beberapa sentuhan tangan manusia. Jadi, kesalahan juga dapat terjadi apa bila manusia tersebut keliru dalam memasukan atau menginfokan data, kembali ke sistem awal bahwasanya jurnalisme robot hanya mengolah data bukan mencari.


Jika sudah demikian, bagaimana sikap kita sebagai jurnalistik dalam menghadapi hal tersebut?

Salah satu sikap yang perlu diambil adalah selain harus membekali dengan skill teknis dan digital, mau tak mau kita juga akan bekerja beradaptasi dan memonitor kerja jurnalistik para robot. Sebab robot akan menjadi pekerja di masa depan maka Di sini peran jurnalis sebagai penyeimbang dan pemvalidasi berita menjadi penting.

Hal ini karena robot berbasis AI belum mampu, sampai saat ini, mengolah data dengan tidak berbasis gender, etnisitas, negara, dan bahasa.
Ini menjadi sebuah pembuktian juga bahwa jurnalis manusia lebih paham kode etik dibanding robot.


Jurnalis online dan jurnalis tradisional(wartawan) 

Jurnalisme online dan tradisional. Ya, sebuah perdebatan mengenai hal itu tak ada habisnya. Tidak satupun dari mereka menyetujui mengenai definisi tunggal apa itu profesi dan profesi media pada umrumnya. Mereka saling yakin bahwa apa yang mereka pikirkan adalah benar akan dirinya masing-masing, dalam hal ini adalah jurnalis online dan tradisional.

Jurnalis online beranggapan bahwa drinya merupakan sesuatu yang cepat dalam menyampaikan berita dan lebih mengingut sertakan masyarakan dalam membuat/menyajikan sebuah berita, berbeda dengan jurnalisme tradisional yang masih menggunakan cara kuno dalam menyampaikan berita dan terkesan lebih kaku.

Sedang, jurnalisme tradisional beranggapan bahwa informasi yang mereka sebarkan lebih mendalam dan jelas, tidak seperti jurnalis online yang hanya dipermukaan dan memiliki keakuratan rendah.

Seperti itu kurang lebih anggapan dari masing-masing kubu. Yang jelas setiap dari mereka tentunya mempunyai identitas yang bisa berupa kelebihan atau kekurangan.


Kiranya sekian dulu pembahasan kita kali ini, seperti biasa terimakasih atas segala kesan pun pesan. Jangan lupa bahagia sebagai mana mestinya and selalu yakin kalau dirimu istimewa

See you




Sumber :

Razaki Eko(2018). Praktik jurnalisme robot, senjakala jurnalis. Diakses pada 19 Mei 2019.
http://www.remotivi.or.id/amatan/481/Praktik-Jurnalisme-Robot,-Senjakala-Jurnalis?


Sarawati Ratih(2016).Tradisional vs jurnalis online. Diakses pada 19 Mei 2019.
https://www.kompasiana.com/ratihsaraswati/56d7dcc45397737e0cc807cb/tradisional-vs-jurnalisme-online?page=all




Komentar